Pada akhir 2016, Rad+ar bekerja sama dengan masyarakat lokal Cilegon, perkumpulan nelayan lokal serta dibekali oleh dukungan Krakatau Steel bersama-sama mewujukan gagasan ruang publik yang akan menjadi landmark baru Cilegon sebagai kawasan industri.

Paradoks Cilegon sebagai kota industri logam di Indonesia yang juga menjadi kota nelayan tepi pantai Banten tidak pernah menemukan jalan tengah, baik dalam pemuasan perebutan lahan yang semakin memburuk, limbah yang berdampak besar bagi para nelayan, semakin buruknya iklim agraris, juga ketidak mapanan ruang publik serta landmark daerah yang praktikal memuncak pada sebuah diskusi panjang. Eco Oasis Village dicetuksan dan digagas kepada semua pihak, mulai dari warga lokal, perusahaan swasta setempat, sampai dengan keikut sertaan peran aktif pemerintah untuk menjebatani. 

Eco oasis village sendiri sesungguhnya merupakan taman ekologi yang bersifat sebagai bendungan air kawasan cilegon dan kawasan penanaman dan pembibitan aktif kawasan di lahan seluas 6 hektar, yang kemudian juga digunakan sebagai kawasan pemancingan dengan tema 360 derajat memusat dan mengelilingi serta penambakan yang dapat dikaryakan oleh koperasi nelayan yang terpaksa pasif di musim hujan. Pembiayaan pemeliharan ruang publik didanai dari suntikan bantuan dana perusahaan swasta dan juga dari sewa usaha kecil menengah yang dipusatkan di kawasan ini untuk mewadahi lebih kurang 1200 usaha kecil menengah.

Diharapkan kawasan Eco Oasis Village yang didesain dengan karakter industrial dapat menjadi titik landmark baru kota industri Cilegon dan mampu mewadahi kebutuhan banyak pihak, dan mengenalkan elemen arsitektur bagi banyak pihak. 

 

Learn more :
Eco Oasis Village